Showing posts with label Other. Show all posts
Showing posts with label Other. Show all posts
Pernah menjumpai file bernama COPY OF SHORTCUT 1-4  pada flashdisk atau harddisk kamu? Jika pernah jangan dianggap remeh file tersebut karena file tersebut merupakan salah satu virus komputer yang lumayan berbahaya. Jika komputer atau flashdisk anda terinfeksi virus ini tandanya adalah saat memasukkan flashdisk kedalam komputer pasti di dalam flashdisk langsung berisi file Copy Of Shortcut 1-4, Autorun.inf juga folder RECYCLER yang tersembunyi. Virus ini mempunyai induk virus yang bernama Watermark.exe yang terletak pada C:/Program Files/Microsoft. 
Cara menghilangkannya adalah:

1. Buka “Task Manager” dengan cara menekan “Ctrl+Alt+Del”. Pada Tab “Process” cari “svchost.exe” yang usernamenya nama komputer anda, bukan svchost yang berusername LOCAL SERVICE, SYSTEM atau NOTWORK  SERVICE. Komputer yang terinfeksi virus ini pada task manager terdapat 2buah  svchost dengan username komputer anda, lalu kedua task tersebut matikan prosesnya dengan mengklik “End Process” satu per satu.Biarkan “Task Manager” terbuka (jangan di close dulu)

2. Kemudian buka “cmd”, atau pada START-ALL PROGRAMS-ACCESSORIES-COMMAND PROMPT, atau START-RUN lalu ketik “cmd” dan tekan “enter”. Semua tanda kutip tidak dipakai, Pada Command Prompt ketik: “CD..”     lalu enter, ketik lagi “CD..” lalu enter lagi hingga pada Command Prompt tinggal terlihat “C:/” saja.
 - Kemudian ketik “cd program files/microsoft” lalu tekan enter .
 - Kemudian ketik “del WaterMark.exe /a /s” lalu tekan enter.
 - Masih di C:/Program Files/Microsoft, ketik “md watermark.exe”, lalu tekan enter
 - Kemudian     ketik “cd watermark.exe” dan tekan enter .
 - Lalu ketik “md con\\” lalu tekan enter .
 - Restart windows .

3. Buka Registry Editor, START – RUN, lalu ketik “regedit” dan tekan enter .
 - Pada     Registry editor, Cari “Userinit” pada [HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft   \Windows NT\CurrentVersion\Winlogon].Setelah Usernit ditemukan  klik 2 kali pada “Userinit” itu, lihat value Data nya “c:\windows\system32\userinit.exe, c:\program files\microsoft\WaterMark.exe” ganti dengan “c:\windows\system32\userinit.exe” atau hapus text dibelakang tulisan tersebut.
 - Refresh     Registry Editor, lalu lihat pakah userinitnya berubah lagi atau tidak? Jika value data dari userinit ini tidak berubah berarti virus WaterMark.exe sudah tidak berfungsi karena sudah diganti dengan folder watermark.exe

Secara     otomatis  watermark     sudah hilang.

(semua tanda petik (“)  tidak perlu ditulis)



Tetapi apabila Komputer anda tidak berisi file tersebut,berarti hanya flashdisk yang terinfeksi dan cara menghapusnya sebagai berikut:
1. Buka Smadav kamudian klik bagian Tools lalu klik Smad-lock. Ubah drive yang terkena virus dari semi locked menjadi unlocked
2. Buka file exploler klik pada tools, folder options,klik view ubah dari Don’t show hidden file, folders, and drive menjadi Show hidden file, folders, and drive ( hanya memindah tanda)
3. Buka flashdisk yang terinfeksi cari Autorun.inf, klik kanan, properties klik sekali pada read only dan hidden files agar autorun.inf ini tampak secara langsung. Buka Autorun.inf tersebut dengan notepad isinya adalah tulisan bahasa pemrograman kemudian hapus semua tulisan tersebut lalu save as dan overwrite autorun lama.Terakhir ubah kembali autorun  yang sudah kosong tersebut read only dan hidden files.
4. Hapus COPY OF SHORTCUT 1-4 dan folder gudang virus bernama RECYCLER
Sumber:
 
 
pertama download format factory dulu.. cari aja di google

type : MKV (sebenernya terserah aja)
bitrate : 2400 atau dibawahnya
EPS : 23.976

yang lain defaul aja semua


oleh : M Arief Budiman


Someday, creative industry will lead entire industry – Quotes from IYCEY Presentation, 2006 -

Kita sungguh beruntung bisa hidup di satu masa dimana kreativitas telah diapresiasi dengan tingkat yang luar biasa positif dibanding masa-masa sebelumnya.

Saya masih ingat dengan jelas sekitar sepuluh tahun lalu saat memulai sebuah kantor desain grafis kecil, seorang calon klien protes dengan keras,”Mas, dimana-mana nggak ada yang yang namanya biaya desain. Itu kan gratis jika saya mencetak di tempat situ to? Yang bener aja, desain grafis kok harus dibayar!”

Juga seorang pemilik percetakan yang dengan ‘cerdas’nya berkata,”Biro desain grafis itu hanya broker percetakan. Lebih baik langsung ke percetakan saja, pasti lebih murah. Nanti desainnya kita bikinkan gratis!”


Waktu pun berlalu, dan hari ini biaya selembar desain brosur A4 dua muka bisa mencapai jutaan rupiah. Desain logo bahkan puluhan milyar rupiah. Apresiasi, penghargaan dan kepercayaan masyarakat atas profesi dan industri desain grafis terus meningkat bersamaan dengan gencarnya upaya mengedukasi khalayak tentang ide, kreativitas, desain, hal-hal yang secara bawaan sering disebut intangible.

Pada awalnya, pusat desain grafis adalah Jakarta, tidak perlu dipungkiri. Karena sebagai ibukota, infrastrukturnya paling siap untuk ditumbuhi benih ide dan bisnis desain grafis. Sistem komunikasi (telepon, internet) yang maju, lokasi yang menyatu dengan pusat bisnis dan pemerintahan, klien yang sudah punya budget rutin untuk mengorder, SDM kreatif yang mengumpul bagai laron menerkam cahaya. Semuanya  tersedia, tinggal dimainkan.

Tapi hari ini, situasi seperti di atas segera akan berubah dengan drastis bahkan dramatis. Bagaimana tidak? Dengan kemajuan teknologi internet yang menjangkau ujung dunia (baca: ke pelosok-pelosok desa), orang-orang kreatif kini tak perlu bersusah payah memindahkan dirinya ke Jakarta untuk berkarya dan/atau membangun bisnis desain grafis.



Apalagi dalam bisnis desain grafis dan bisnis ide lainnya tak memerlukan biaya angkut yang mahal (seperti bisnis berbasis produk), desain yang dikerjakan dengan komputer begitu selesai tinggal di-sent via email: beres dah. Diterima real time oleh klien di manapun berada. Proses pembayaran pun serupa. Hari ini tidak aneh jika ada cerita hubungan bisnis yang sukses antara klien dan biro desain grafis selama lima tahun lebih tapi tak pernah ketemu muka, tak pernah kopi darat. Semua transaksi dan pengerjaan selesai di depan komputer.

Potensi Kreatif di Luar Radar

Saya seringkali merasa tidak  enak hati  saat dianggap sebagai orang ‘daerah’ ketika menghadiri sebuah pertemuan di Jakarta. Saya merasa Jogja (tempat saya berdomisili) sama dan egaliter dengan Jakarta, bahkan dengan London, Washington, sama juga dengan Sleman, Brosot, Trenggalek, Sumenep.  Paham yang menunjukkan ini pusat itu daerah tidak mendidik kita semua untuk bersikap egaliter, yang merasa berasal dari ‘daerah’ akan cenderung minder dan menganggap yang dari pusat selalu lebih baik. Ini harus segera dibenahi.

Padahal dari wilayah-wilayah di luar radar inilah tersimpan potensi kreatif yang luar biasa dahsyatnya, persis seekor singa perkasa yang sedang tertidur. Sekali kita bisa membangunkannya, dunia desain grafis Indonesia akan mendapatkan manfaat terbesarnya.

Berikut saya akan bahas beberapa hal menyangkut peluang dan tantangan wilayah di luar Jakarta dalam pengembangan industri desain grafis.

Aspek terpenting adalah nilai budaya lokal sebagai potensi luar biasa untuk dikembangkan, dengan keunikan dan kekuatan filosofi-nya yang tak dimiliki oleh kota-kota metropolis yang cenderung meng-global, tak punya lagi pijakan budaya yang kuat selain mengikuti arus besar modernisme. Nilai lokal bisa menjadi oase di tengah kekeringan makna budaya modern, nilai lokal menjadi sumber inspirasi penciptaan karya desain grafis yang kuat maknanya dan tak sekedar keindahan visualnya semata.

Budaya yang bersahabat masih belum banyak tercemari oleh budaya egoisme dan mau menang sendiri menjadi pendukung kuat bagi tumbuhnya komunitas-komunitas kreatif yang terbentuk karena kebutuhan yang sama yang tidak semata-mata berwujud bisnis atau uang. Komunitas seperti ini subur menghiasi Bandung, Jogja, Surabaya juga Bali. Juga titik-titik pertemuan informal di warung, tempat ngopi, lapangan yang bisa didatangi siapapun dan kapanpun untuk berbagi, berdiskusi tersedia dalam jumlah yang cukup dan mudah diakses.

Biaya hidup dan biaya berkarya yang lebih murah membuka peluang untuk menghasilkan suatu sistem bisnis yang unggul creative output-nya dengan harga yang lebih kompetitif. Sekaligus ketersediaan SDM kreatif dari sekolah-sekolah desain grafis yang kini tumbuh makin banyak.

Apalgi perkembangan infrastruktur IT yang telah bergerak dari sekedar komputer rumahan terhubung internet, menjadi laptop nirkabel bahkan gadget seperti handphone, blackberry dan iphone membuat kita bisa berkantor dan mengkreasikan ide di mana saja.  Internet yang menghapus jarak juga membuka pintu-pintu peluang yang luar biasa banyaknya: kita bisa berjualan, bisa memajang karya (pameran), bisa belajar dari tokoh terbaik di dunia, tanpa harus kemana-mana. Apalagi dengan makin menjamurnya situs jejaring (baca: facebook) kita bisa terhubung langsung, sms-an, comment di wall dengan para pimpinan perusahaan, tokoh desain grafis bahkan presiden di ujung jari kita.

Tapi secanggih apapun internet, selengkap apapun informasi di dalamnya, internet takkan pernah bisa menentukan apa cita-cita hidup kita. Apa visi kita ke depan. Tanpa cita-cita yang jelas, sekarang yang terjadi memang akses internet makin meningkat tapi content yang dicari bukan yang membuat kita makin cerdas makin pintar makin bijak, sebagian besar semata-mata hiburan dan pengisi waktu luang semata tanpa nilai tambah yang berarti.

Mengapa Ide-ide Lokal Tidak Berkembang?



Kembali ke bahasan tentang pengembangan ide lokal, jika kita mau bercermin tampaklah bahwa hidup kita telah dikendalikan oleh gengsi, dalam segala bentuknya. Termasuk persetujuan implisit kita tentang kasta-kasta: ini agency Jakarta, itu agency daerah. Perusahaan multinasional, perusahaan nasional, perusahaan lokal. Mentalitas bangsa terjajah telah membuat kita sulit bersikap egaliter, pilihannya hanya arogan (buat yang merasa kelasnya lebih tinggi) atau minder (buat yang tidak percaya diri).

Celakanya, dalam hal pengolahan ide kreatifpun kasusnya gak jauh beda. Dikit-dikit menjurusnya ke stereotip: kalo ide yang global itu begini, yang lokal itu begitu. Kita sendiri yang menyimpan ketakutan dianggap melanggar adat jika tidak seperti kebanyakan orang. Kita terbiasa bersikap inferior, sadar atau tidak sadar.

Memahami kultur yang akan kita angkat menjadi sebuah tema dalam desain grafis adalah hal mutlak yang harus kita kuasai. Tanpa pemahaman yang mendalam, maka proses untuk meng-akulturasikannya dengan aspek global tidak saja bisa mengakibatkan salah persepsi tapi bahkan bisa menjadi bumerang akibat penerimaan negatif target audiens.

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membawa muatan lokal yang begitu unik, menarik agar bisa diterima oleh audiens yang bahkan tidak mengerti secara jelas kultur budaya yang diangkatnya dalam sebuah karya desain grafis.

Karena tidak semua kultur lokal bisa diangkat menjadi bahasa global, ada kemungkinan kultur di suatu daerah bisa bertentangan dengan daerah lain. Contoh kecil: ‘kates’ dalam bahasa Jawa berarti ‘pepaya’, tapi dalam bahasa Sunda berarti ‘pisang’.

Bahkan, yang dianggap baik di suatu komunitas, bisa dianggap sangat buruk di komunitas yang lain. Ketelanjangan di Papua dianggap biasa, tapi jangan coba diterapkan di Aceh, misalnya. Pemahaman atas dua hal ini akan banyak membantu tercapainya proses transformasi pesan yang benar-benar pas pada audiensnya, sehingga tercipta ‘desain grafis plus’, yang pengaruhnya melebar melewati batas-batas lokalitasnya sendiri.


Creativepreneur Sebagai Jalan Keluar

Memunculkan kemandirian saya pikir menjadi fokus penting untuk mulai memberdayakan akademi dan industri desain grafis. Tanpa kemandirian, takkan tumbuh bunga kreativitas yang bermekaran dari seluruh pelosok negeri. Kemajuan takkan pernah dicapai hanya dengan menunggu, berharap pihak lain (pemerintah, kampus, industri) akan datang memberi bantuan untuk menyelesaikan persoalan.

No way! Tidak ada makan siang gratis. Upaya memperkenalkan creativepreneur sebagai enterpreneur (kewirausahaan) yang berbasis kreatif perlu terus dilakukan. Sosialisasi, seminar, workshop, penerbitan buku Success Story, Creative Competition harus terus menerus dilakukan dengan kualitas dan kuantitas yang makin progresif.

Budaya mayoritas masyarakat kita yang memilih hidup aman dengan menjadi pegawai (negeri/swasta) memang akan mempengaruhi proses ini. Inilah tantangannya, segala sesuatu ya memang akan diuji dulu di awal. Berbekal kreativitas, sesungguhnya tak pernah ada yang tak mungkin selama kita yakin dengan jalan yang kita tempuh.

Sejak awal kuliah, bahkan awal sekolah, anak didik diupayakan untuk dibimbing ke arah kemandirian. Di-encourage untuk bikin bisnis sendiri di usia belasan, ditemani dengan kasih sayang saat mengalami kegagalan, dihajar mentalnya agar tidak mudah cengeng dan dibenturkan realitas bisnis yang keras agar kuat otot dan insting bisnisnya. Alumnus perguruan tinggi harus di-upgrade dari sekedar ready to work (menjadi pekerja profesional) menjadi ready to create (menjadi wirausaha).

Manfaatkan Keajaiban Creative Giving



Satu hal lagi yang saya ingin usulkan untuk lebih mengembangkan dunia desain grafis adalah perlunya tokoh-tokoh, orang-orang pintar, praktisi industri kreatif, young entrepeneurs, para mahasiswa desain grafis atau bahkan siapapun untuk mulai berbagi dengan cara-cara kreatif.

Jika kita hanya menunggu pemerintah atau institusi bisnis menyiapkan infrastruktur untuk memajukan dan meningkatkan kecerdasan serta kreativitas anak didik dan para pekerja kreatif kita, waktunya akan terlalu lama dan belum tentu terlaksana. Terlalu banyak barrier, birokrasi dan tetek bengek aturan yang membuat upaya tersebut tidak bisa cepat terimplementasi.

Jadi memaksimalkan kekuatan ‘creative giving’ adalah cara paling praktis yang kita bisa lakukan. Tak usah dengan hal-hal yang besar, kita mulai dari hal-hal kecil dulu. Misalnya: jika kita punya pengetahuan tentang sesuatu hal, segeralah di-share kepada lebih banyak orang lewat blog, milis, facebook, website dan media-media komunikasi gratisan lainnya. Ada yang jago komunikasi, tulislah tentang pengetahuan dan pengalaman komunikasi Anda di dunia bisnis, gratiskan ilmu Anda pada yang membutuhkan, Anda akan jadi makin ahli karena bertambahnya ilmu bukannya makin berkurang.

Mental berkelimpahan, itulah yang kita perlukan. Bukan mental serba kekurangan sehingga saat punya ilmu tertentu kita takut mengajarkannya pada orang lain, takut suatu hari nanti jadi kompetitor, takut suatu hari  nanti ilmunya habis dan kompetitornya lebih pintar dari dia.

Apapun yang kita punya dan sekiranya bermanfaat buat yang lain, segeralah bagikan. Jangan ditunda. Semakin banyak yang bergabung dalam gerakan ini, maka kesenjangan antara mahasiswa di pelosok dan pusat kota akan segera terjembatani. Lanjutkan terus proses memberi, manfaat terbesarnya akan kembali pada yang melakukan bukan hanya pada yang menerima pemberian itu. Dan bayaran Tuhan atas kebaikan yang kita lakukan selalu akan lebih banyak berlipat-lipat dan seringkali dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

Kita Mulai Saja dan Benahi Sambil Jalan

Apa yang saya sampaikan ini hanyalah upaya kecil saja. Hanya langkah awal untuk kita semua agar mau dan mampu melihat potensi luar biasa yang tersebar di seluruh muka bumi Indonesia ini, tidak saja dari alamnya yang kaya raya tapi justru dari kreativitas masyarakatnya yang luar biasa meskipun belum banyak tergali secara maksimal.

Meninggalkan kebiasaan lama memang tidak mudah. Selalu ada keraguan ketika memutuskan untuk berubah: keluar dari zona kenyamanan yang biasa kita nikmati setiap hari dan menuju wilayah baru yang asing dan tak terpetakan. Jika keraguan atau ketakutan mulai menyerang, maka tersenyumlah.

Masa depan dunia desain grafis kita akan ditentukan oleh sekelompok minoritas yang ide-ide besarnya semula dianggap asing, tidak wajar bahkan gila. Bukan oleh kerumunan banyak orang, bukan oleh sebuah tim yang lengkap dan solid. Di kisah sukses manapun, cerita ini berulang.



Jadi jangan menunggu untuk memulai. Seorang bijak pernah berkata, resiko terbesar dalam hidup adalah tidak pernah berani mengambil resiko. Dan keteguhan atas sebuah visi di masa depan – kata Goethe – menyimpan kekuatan, kejeniusan dan keajaibannya sendiri.

Saya percaya bahwa ide-ide lokal punya potensi kekuatan luar biasa, justru karena kelokalannya. Ide kreatif yang berangkat dari lokalitas itu jumlahnya jutaan, dan jika diolah maksimal akan menjelma jadi masterpiece berkelas internasional. Keyakinan saya mengatakan industri desain grafis dan industri yang berbasis kreativitas inilah yang akan menjadi kiblat industri yang lain, untuk membuat dunia yang kita tinggali ini menjadi sedikit lebih baik. Pintu untuk menuju ke sana telah terbuka lebar, kita hanya perlu percaya dan merapikan barisan.

Jarak ribuan kilometer akan bisa ditempuh hanya dengan satu langkah, yang terus berulang. Mari kita melangkah sekarang.

Sumber Bacaan : de.ge.i.strip.indonesia.dot.com


Perjuangan adalah suatu proses mutlak yang harus dilalui demi memperoleh sesuatu yang dikehendaki entah apapun itu. Tidak ada satupun fase kehidupan yang luput dari unsur perjuangan. Begitu pun juga perjuangan Walisongo. Yakni, Sembilan insan yang berda’wah menyiarkan Islam di tanah Jawa. Periode da’wah mereka berkisar pada Abad 14 sampai Abad 16 M, meskipun banyak tokoh – tokoh lain yang berperan dalam penyebaran Islam tetapi nama Walisongo lah yang muncul sebagai ikon penyebar Agama Islam di tanah Jawa, karena memang penyebab berakhirnya era dominasi Hindhu – Budha yang tergantikan dengan kebudayaan Islam adalah berkat jasa dari Walisongo mengingat pada sebuah Ayat Al – Qur’an yang artinya : “Dan Hendaklah ada diantara kamu, segolong ummat yang menyeru pada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka adalah orang – orang yang beruntung”. (QS : Ali Imron 104). dari kandungan Ayat diatas kita dapat mengetahui bahwa tindakan adalah tindakan yang mempunyai dasar dan dibenarkan dalam Ajaran Islam.

PROFIL MEREKA
Alangkah baiknya jika kita mengenal lebih lanjut mengenai kiprah mereka dalam berda’wah, sehingga pada akhirnya kita dapat menghargai perjuangan mereka dengan berda’wah mensyiarkan Islam atau setidaknya dengan kita menjalankan syariat Islam yang diperjuangkan oleh Walisongo selama masa itu untuk dapat berdiri di tanah Jawa, Profil yang pertama yakni Maulana Malik Ibrahim juga disebut sebagai Sunan Gresik atau terkadang Syekh Maghribi dan Makdum Ibrahim As Samarqnady. Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di Samarkand Asia Tengah pada awal Abad 14. Babad Jawi menyebutnya Asmaraqandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As Samarqandy berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim adalah Wali Pertama yang membawakan Islam di tanah Jawa, dia juga mengajarakan cara – cara baru bercocok tanam. Ia banyak merangkul sebagian besar rakyat, yaitu golongan yang tersisihkan dalam masyarakat Jawa pada akhir kekuasaan Majapahit, Misinya adalah mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara, pada tahun 1419 setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, Maulana Malik Ibrahim wafat, makamnya kini terdapat di Desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur. Yang kedua yakni Sunan Ampel yang benama asli Raden Rahmat adalah putra dari Maulana Malik Ibrahim, Mubaligh yang berda’wah di Champa dengan Ibu Putri Champa. Jadi terdapat kemungkinan Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dari Ayahnya dan Champa dari Ibunya. Sunan Ampel adalah tokoh utama penyebaran Islam di tanah Jawa, khususnya untuk Surabaya dan daerah – daerah sekitarnya. Sunan Ampel memulai dakwahnya dari sebuah pesantren yang didirikan di Ampel Penta, dipesantrenya, Sunan Ampel menerima pemuda – pemuda yang berdatangan dari berbagai penjuru Nusantara untuk mempelajari Agama Islam. Dan menjadi Muridnya. Sunan Giri, Raden Fatah, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat adalah murid – murid Sunan Ampel. Sunan Ampel dikenal pula sebagai Wali yang tidak setuju terhadap Adat Istiadat masyarakat Jawa pada masa itu, misalnya Kebiasaan mengadakan sesaji dan selamatan. Akan tetapi para Wali lain berpendapat, bahwa hal itu tidak bisa dihilangkan dengan segera, para Wali lain justru mengusulkan agar Adat Istiadat seperti itu diberi warna Islam, Akhirnya Sunan Ampel setuju, walaupun tetap khawatir bahwa hal itu akan berkembang sebagai Bid’ah. Yang ketiga yakni Sunan Bonang dia adalah putera dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila Putri Adipati Tuban bernama Arya Teja Nama Asli Sunan Bonang adalah Raden Makdum Ibrahim, Sunan Bonang mempunyai cara yang khas dalam berda’wah mensyiarkan Islam yakni dengan cara menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang menggemari Wayang dan Musik Gamelan. Untuk itu beliau menciptakan gending – gending yang memiliki nilai keislaman. Setiap bait lagu diselingi dengan ucapan dua kalimat Syahadat (Syahadatain) sehingga Musik Gamelan yang mengiringinya kini dikenal dengan Istilah Sekaten, Sunan Bonang pernah belajar Islam di Pasai, Aceh. Sekembalinya dari Pasai. Beliau memusatkan kegiatan da’wahnya di Tuban dengan mendirikan Pondok Peantren Sunan Bonang yang dilahirkan di Ampel Penta, Surabaya Wafat di Tuban pada tahun 1525. Yang keempat yakni Sunan Drajad Nama Asli adalah Raden Qosim. Beliau adalah anak kandung dari Sunan Ampel, Saudara kandung Sunan Bonang. Cara beliau berda’wah ialah dengan menanamkan ajaran Tauhid (Tuhan yang Esa) dan aqidah (keyakinan) yang dalam penyampaiaanya mengikuti cara ayah beliau dengan tidak banyak mendekati budaya lokal. Kendati begitu Sunan Drajad juga mengadopsi cara penyampaian da’wah yang dilakukan oleh Sunan Muria. Semisal dengan kesenian suluk dengan mengubah sejumlah suluk dan mengisinya dengan petuah – petuah serta nasehat. Di antara suluk karyanya yaitu (dalam terjemahan bahasa Indonesia) : Berilah tongkat pada si buta, berilah makan pada si miskin dan berilah pakaian pada yang telanjang. Selain itu, Sunan Drajad juga tersohor sebagai seorang yang suka menolong sekaligus bersahaja. Beliau juga mendirikan sebuah pesantren yang berfungsi untuk mengasuh anak – anak yatim dan fakir miskin. Yang kelima adalah Sunan Kudus nama aslinya Sayyid Ja’far Shadiq adalah putra Sunan Ngudung, Sunan Kudus adalah buah pernikahan Sunan Ngudung yang menikah dengan Syarifah Adik dari Sunan Bonang. Dalam berda’wah beliau banyak berguru pada Sunan Kalijaga dalam berda’wah sangat toleran pada budaya setempat. Simbol – simbol Hindhu dan Budha dimanfaatkannya untuk mendekati masyarakat Kudus, hal ini jelas terlihat pada arsitektur Masjid Kudus, bentuk menara, gerbang dan pancuran yang biasa disebut padhasan wudlu yang melambangkan 8 jalan budha. Sebuah perwujudan kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Pernah pada suatu waktu beliau memancing masyarakat pergi ke masjid untuk mendengarkan tablighnya. Untuk itu beliau sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Apalagi setelah beliau membaca surat Al-Baqarah (Sapi Betina), orang – orang Hindu yang mengagungkan sapi menjadi simpati. Sehingga sampai sekarang sebagian besar masyarakat Kudus menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga mengubah cerita – cerita ketauhidan. Cerita tersebut disusun secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah kisah yang tampaknya mengadopsi kisah 1001 malam dari masa kekhalifahan ‘Abbasiyyah. Dengan cara begitulah Sunan Kudus memikat hati masyarakat. Yang keenam yakni Sunan Giri atau Raden Paku nama aslinya adalah Raden Ainul Yaqin adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang. Beliau ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk mensyiarkan agama Islam di daerah Blambangan. Pada suatu perjalanan haji dengan Sunan Bonang, beliau singgah di Pasai untuk memperdalam ilmu agama. Sekembalinya di Jawa, Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri, dia juga banyak mengirimkan juru da’wah ke Bawean (Madura) bahkan juga ke Lombok, Ternate dan Tidore di Maluku. Ynag ketujuh yakni Sunan Kalijaga nama aslinya adalah Raden Said putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung atau Raden Sahur, dia mempunyai paham keagamaan yang cenderung sufistik (berbasis salaf), bukan sufi panteistik (pemuja semata). Budaya Jawa dijadikannya sebagai mediasi untuk berda’wah dengan tetap memegang erat pada prinsip toleransi dengan budaya lokal dengan harapan nantinya masyarakat tidak akan menjauh (sinkretis) mengenal Islam lewat seni, ukir, wayang dan gamelan. Beliau juga adalah pencipta baju taqwa, acara sekaten, grebeg maulud, lanskap pusat kota beberapa keratin, alun – alun dengan dua beriring serta sebuah masjid sebagai bukti peninggalanya yang selama dalam masa berda’wah mensyiarkan Islam. Yang kedelapan yakni Sunan Muria nama aslinya adalah Raden Umar Said putra dari Sunan Kalijaga hasil buah pernikahannya dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Sunan Muria sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam di daerah pedesaan, dikarenakan kesukaanya menyendiri dan tinggal di desa bersama rakyat kecil, dalam berda’wah, Sunan Muria selalu menjadikan desa – desa terpencil sebagai daerah da’wahnya. Yang kesembilan yakni Sunan Sunan Gunung Jati nama aslinya adalah Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah dan Nyai Rara Santang seorang putri keturunan keratin Pejajaran, Nyai Santang sendiri merupakan anak dari Sri Baduga Maharaja atau dikenal juga sebagai Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan Nyai Sabang Larang. Cakupan wilayah da’wahnya mulai dari pesisir Cirebon hingga kepedalaman Pasundan dan Priangan, dalam berda’wah menganut kecendrungan Timur Tengah yang lugas, dan yang dipergunakan untuk mendekati rakyatnya ialah dengan membangun infrastruktur jalan – jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Refrensi : Cuplikan buku wismulyani endar 2008. Jejak Islam di Nusantara. Klaten : Cempaka Putih

Sebagai para generasi penerus bangsa kita harus giat belajar jika ingin menyongsong masa depan yang cerah. Perlu kita ketahui pada aktivitas kita sehari-hari ,kira-kira mungkin kita belajar di sekolah selama 6-7 jam. Apa mungkin itu cukup jika kita kita tidak belajar lagi dirumah .Tapi kadang-kadang kita sulit mengatur dan membagi waktu ataupun juga kita malas untuk belajar. Nah oleh karena itu kita harus pintar-pintar mengatur waktu dan solusinya ada cara untuk belajar lebih efisien yaitu pertama-tama pada waktu pulang sekolah ,siang ataupun sore hari lebih baik kita istirahat dahulu yaitu dengan makan atau melihat sairan televisi, ada baiknya jika kita menonton berita tujuannya adalah agar kita tidak jenuh setelah belajar selama berjam-jam di sekolah. Setelah itu lebih baik kita tidur, pastinya setelah tidur sejenak sekitar 1-2 jam pikiran kita akan jernih kembali .

Nah itulah saatnya kita memanfaatkan waktu kita untuk belajar.Waktu di rumah kita tidak perlu belajar selama berjam-jam seperti di sekolah. Jika kita ingin belajar dengan sungguh-sungguh,kita hanya butuh waktu 1-1.30 jam saja. Jika ingin tahu cara belajar yang lebih efisien lagi yaitu pada waktu setelah shalat shubuh sekitar pukul 04.00-05.30. Mungkin jika kita membaca buku terus menerus kita akan merasa jenuh sehingga cepat bosan. Agar kita tidak merasa jenuh dan bosan lebih baik setelah kita membaca ,kita mencoba untuk merangkum bacaan yang sudah kita baca tadi. Cara tersebut akan memudahkan kita untuk belajar. Adapun cara yang lain lagi jika kita kesulitan mempelajari mata pelajaran yang sulit di mengerti solusinya yaitu dengan belajar kelompok atau les di luar lingkungan sekolah.

Demikian artikel mengenai cara belajar yang efisien. Walau saya di sini kurang sukses untuk mengikutinya tapi saya kan selalu mencoba. Selain itu tujuan saya memosting artikel ini hanya sekedar ingin share kepada pembaca semoga bermanfaat.

Refrensi: Mbah Google

Dikutip dari bulletin El-Wijhah Edisi XIX
Kategori : Artikel



Saya sepakat dengan Ahmad Dhani yang menyatakan hidup lebih bermakna karena ada masalah-masalah yang harus diselesaikan. Sebab hidup manusia itu sendiri adalan masalah (problem) seseorang tidak bisa dikatakan hidup, bila tidak pernah menghadapi masalah, kualitas seseorang juga dipengaruhi oleh sejauh mana ia berhasil menyelesaikan (to solve) masalah-masalah yang dihadapi.
Masalah adalah sesuatu keadaan yang tidak sesuai dengan harapan yang kita inginkan, kemampuan kita mempertemukan keinginan dan kenyataan, itulah yang dinamakan dengan memecahkan masalah, dengan demikian pemecahan masalah (Problem Solving) dapat didefinisikan sebagai suatu proses menghilangkan suatu perbedaan atau ketidaksesuaian (Gap) yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil yang diinginkan.
Pada dasarnya pemecahan masalah (Problem Solving) terbagi dalam tiga tahap yakni: Representasi Masalah dan memutuskan apakah solusi tersebut memuaskan atau tidak memuaskan.
Langkah-langkah pemecahan masalah diperlukan Problem Solving Approach (PSA) yaitu pendekatan dengan menggunakan metode-metode keilmuan yang secara berencana dilakukan untuk mengurangi, atau menghilangkan masalah yang dihadapi. Seseorang yang akan memecahkan masalah sebaiknya memperhatikan langkah-langkah yang harus ditempuh sehingga masalah dapat diatasi dengan baik dan memperoleh hasil yang optimal.
Langkah-langkah dalam memecahkan masalah:
1.Penegasan masalah: yang meliputi langkah-langkah.
a)Mengenali cirri-ciri masalah yang ada.
b)Memilih masalah sehingga dapat membedakan antara masalah yang satu dengan yang lain, sebab bisa jadi masalah tersebut merupakan rangkaian yang saling terkait.
c)Merumuskan dalam bentuk pernyataan yang jelas
2.Mengharap masalah: yang meliputi pekerjaan sebagai berikut:
a)Pelajari baik-baik apa yang kita ketahui tentang permasalahan yang kita hadapi, barang kali pernah ada atau mirip dengan masalah yang pernah timbul sebelumnya.
b)Mencari dan mengumpulkan informasi.
c)Menganalisa dan menafsirkan tentang permasalahan yang kita hadapi
3.Menetapkan alternatif penetapan masalah:
a)Buatlah pemecahan alternatif masalah lebih dari satu.
b)Masing-masing pemecahan dipertimbangkan positif atau negatif.
c)Tentukan yang paling tepat.
4.Evaluasi:
a)Berhasil diatasi atau tidak.
b)Tentukan alternatif lain apabila gagal.
Dasar pengambilan keputusan:
1.Adanya musywarah.
2.Pertimbangan dengan cermat pendapat yang disampaikan.
3.Simpulkan dengan jelas pendapat yang ada.
4.Putuskan sesuatu dengan adil dan bijaksana.

Layout by AanZt | Design by NewWpThemes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Templates | NewBloggerThemes.com