Perjuangan adalah suatu proses mutlak yang harus dilalui demi memperoleh sesuatu yang dikehendaki entah apapun itu. Tidak ada satupun fase kehidupan yang luput dari unsur perjuangan. Begitu pun juga perjuangan Walisongo. Yakni, Sembilan insan yang berda’wah menyiarkan Islam di tanah Jawa. Periode da’wah mereka berkisar pada Abad 14 sampai Abad 16 M, meskipun banyak tokoh – tokoh lain yang berperan dalam penyebaran Islam tetapi nama Walisongo lah yang muncul sebagai ikon penyebar Agama Islam di tanah Jawa, karena memang penyebab berakhirnya era dominasi Hindhu – Budha yang tergantikan dengan kebudayaan Islam adalah berkat jasa dari Walisongo mengingat pada sebuah Ayat Al – Qur’an yang artinya : “Dan Hendaklah ada diantara kamu, segolong ummat yang menyeru pada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka adalah orang – orang yang beruntung”. (QS : Ali Imron 104). dari kandungan Ayat diatas kita dapat mengetahui bahwa tindakan adalah tindakan yang mempunyai dasar dan dibenarkan dalam Ajaran Islam.

PROFIL MEREKA
Alangkah baiknya jika kita mengenal lebih lanjut mengenai kiprah mereka dalam berda’wah, sehingga pada akhirnya kita dapat menghargai perjuangan mereka dengan berda’wah mensyiarkan Islam atau setidaknya dengan kita menjalankan syariat Islam yang diperjuangkan oleh Walisongo selama masa itu untuk dapat berdiri di tanah Jawa, Profil yang pertama yakni Maulana Malik Ibrahim juga disebut sebagai Sunan Gresik atau terkadang Syekh Maghribi dan Makdum Ibrahim As Samarqnady. Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di Samarkand Asia Tengah pada awal Abad 14. Babad Jawi menyebutnya Asmaraqandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As Samarqandy berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim adalah Wali Pertama yang membawakan Islam di tanah Jawa, dia juga mengajarakan cara – cara baru bercocok tanam. Ia banyak merangkul sebagian besar rakyat, yaitu golongan yang tersisihkan dalam masyarakat Jawa pada akhir kekuasaan Majapahit, Misinya adalah mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara, pada tahun 1419 setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, Maulana Malik Ibrahim wafat, makamnya kini terdapat di Desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur. Yang kedua yakni Sunan Ampel yang benama asli Raden Rahmat adalah putra dari Maulana Malik Ibrahim, Mubaligh yang berda’wah di Champa dengan Ibu Putri Champa. Jadi terdapat kemungkinan Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dari Ayahnya dan Champa dari Ibunya. Sunan Ampel adalah tokoh utama penyebaran Islam di tanah Jawa, khususnya untuk Surabaya dan daerah – daerah sekitarnya. Sunan Ampel memulai dakwahnya dari sebuah pesantren yang didirikan di Ampel Penta, dipesantrenya, Sunan Ampel menerima pemuda – pemuda yang berdatangan dari berbagai penjuru Nusantara untuk mempelajari Agama Islam. Dan menjadi Muridnya. Sunan Giri, Raden Fatah, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat adalah murid – murid Sunan Ampel. Sunan Ampel dikenal pula sebagai Wali yang tidak setuju terhadap Adat Istiadat masyarakat Jawa pada masa itu, misalnya Kebiasaan mengadakan sesaji dan selamatan. Akan tetapi para Wali lain berpendapat, bahwa hal itu tidak bisa dihilangkan dengan segera, para Wali lain justru mengusulkan agar Adat Istiadat seperti itu diberi warna Islam, Akhirnya Sunan Ampel setuju, walaupun tetap khawatir bahwa hal itu akan berkembang sebagai Bid’ah. Yang ketiga yakni Sunan Bonang dia adalah putera dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila Putri Adipati Tuban bernama Arya Teja Nama Asli Sunan Bonang adalah Raden Makdum Ibrahim, Sunan Bonang mempunyai cara yang khas dalam berda’wah mensyiarkan Islam yakni dengan cara menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang menggemari Wayang dan Musik Gamelan. Untuk itu beliau menciptakan gending – gending yang memiliki nilai keislaman. Setiap bait lagu diselingi dengan ucapan dua kalimat Syahadat (Syahadatain) sehingga Musik Gamelan yang mengiringinya kini dikenal dengan Istilah Sekaten, Sunan Bonang pernah belajar Islam di Pasai, Aceh. Sekembalinya dari Pasai. Beliau memusatkan kegiatan da’wahnya di Tuban dengan mendirikan Pondok Peantren Sunan Bonang yang dilahirkan di Ampel Penta, Surabaya Wafat di Tuban pada tahun 1525. Yang keempat yakni Sunan Drajad Nama Asli adalah Raden Qosim. Beliau adalah anak kandung dari Sunan Ampel, Saudara kandung Sunan Bonang. Cara beliau berda’wah ialah dengan menanamkan ajaran Tauhid (Tuhan yang Esa) dan aqidah (keyakinan) yang dalam penyampaiaanya mengikuti cara ayah beliau dengan tidak banyak mendekati budaya lokal. Kendati begitu Sunan Drajad juga mengadopsi cara penyampaian da’wah yang dilakukan oleh Sunan Muria. Semisal dengan kesenian suluk dengan mengubah sejumlah suluk dan mengisinya dengan petuah – petuah serta nasehat. Di antara suluk karyanya yaitu (dalam terjemahan bahasa Indonesia) : Berilah tongkat pada si buta, berilah makan pada si miskin dan berilah pakaian pada yang telanjang. Selain itu, Sunan Drajad juga tersohor sebagai seorang yang suka menolong sekaligus bersahaja. Beliau juga mendirikan sebuah pesantren yang berfungsi untuk mengasuh anak – anak yatim dan fakir miskin. Yang kelima adalah Sunan Kudus nama aslinya Sayyid Ja’far Shadiq adalah putra Sunan Ngudung, Sunan Kudus adalah buah pernikahan Sunan Ngudung yang menikah dengan Syarifah Adik dari Sunan Bonang. Dalam berda’wah beliau banyak berguru pada Sunan Kalijaga dalam berda’wah sangat toleran pada budaya setempat. Simbol – simbol Hindhu dan Budha dimanfaatkannya untuk mendekati masyarakat Kudus, hal ini jelas terlihat pada arsitektur Masjid Kudus, bentuk menara, gerbang dan pancuran yang biasa disebut padhasan wudlu yang melambangkan 8 jalan budha. Sebuah perwujudan kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Pernah pada suatu waktu beliau memancing masyarakat pergi ke masjid untuk mendengarkan tablighnya. Untuk itu beliau sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Apalagi setelah beliau membaca surat Al-Baqarah (Sapi Betina), orang – orang Hindu yang mengagungkan sapi menjadi simpati. Sehingga sampai sekarang sebagian besar masyarakat Kudus menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga mengubah cerita – cerita ketauhidan. Cerita tersebut disusun secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah kisah yang tampaknya mengadopsi kisah 1001 malam dari masa kekhalifahan ‘Abbasiyyah. Dengan cara begitulah Sunan Kudus memikat hati masyarakat. Yang keenam yakni Sunan Giri atau Raden Paku nama aslinya adalah Raden Ainul Yaqin adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang. Beliau ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk mensyiarkan agama Islam di daerah Blambangan. Pada suatu perjalanan haji dengan Sunan Bonang, beliau singgah di Pasai untuk memperdalam ilmu agama. Sekembalinya di Jawa, Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri, dia juga banyak mengirimkan juru da’wah ke Bawean (Madura) bahkan juga ke Lombok, Ternate dan Tidore di Maluku. Ynag ketujuh yakni Sunan Kalijaga nama aslinya adalah Raden Said putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung atau Raden Sahur, dia mempunyai paham keagamaan yang cenderung sufistik (berbasis salaf), bukan sufi panteistik (pemuja semata). Budaya Jawa dijadikannya sebagai mediasi untuk berda’wah dengan tetap memegang erat pada prinsip toleransi dengan budaya lokal dengan harapan nantinya masyarakat tidak akan menjauh (sinkretis) mengenal Islam lewat seni, ukir, wayang dan gamelan. Beliau juga adalah pencipta baju taqwa, acara sekaten, grebeg maulud, lanskap pusat kota beberapa keratin, alun – alun dengan dua beriring serta sebuah masjid sebagai bukti peninggalanya yang selama dalam masa berda’wah mensyiarkan Islam. Yang kedelapan yakni Sunan Muria nama aslinya adalah Raden Umar Said putra dari Sunan Kalijaga hasil buah pernikahannya dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Sunan Muria sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam di daerah pedesaan, dikarenakan kesukaanya menyendiri dan tinggal di desa bersama rakyat kecil, dalam berda’wah, Sunan Muria selalu menjadikan desa – desa terpencil sebagai daerah da’wahnya. Yang kesembilan yakni Sunan Sunan Gunung Jati nama aslinya adalah Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah dan Nyai Rara Santang seorang putri keturunan keratin Pejajaran, Nyai Santang sendiri merupakan anak dari Sri Baduga Maharaja atau dikenal juga sebagai Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan Nyai Sabang Larang. Cakupan wilayah da’wahnya mulai dari pesisir Cirebon hingga kepedalaman Pasundan dan Priangan, dalam berda’wah menganut kecendrungan Timur Tengah yang lugas, dan yang dipergunakan untuk mendekati rakyatnya ialah dengan membangun infrastruktur jalan – jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Refrensi : Cuplikan buku wismulyani endar 2008. Jejak Islam di Nusantara. Klaten : Cempaka Putih
Layout by AanZt | Design by NewWpThemes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Templates | NewBloggerThemes.com